🌴 BaliExpertGuide
Berita // Living Cultural Calendar

visitors Bali Berpeluang Bantu Selamatkan Kerajinan Tradisional which Berjuang

Selama berabad-abad, Bali telah menjadi rumah bagi para perajin and perajin which benar-benar menenun kain budaya which kita kenal and cintai saat ini. Namun seiring dengan perubahan dunia which cepat, semua hal tersebut berada dalam ancaman.

W
Oleh Wayan Sudarma
Senior Cultural & Heritage Correspondent
4 menit membaca
visitors Bali Berpeluang Bantu Selamatkan Kerajinan Tradisional which Berjuang
Editorial travel photography curated by Bali Expert Guide.

Selama berabad-abad, Bali telah menjadi rumah bagi para perajin and perajin which benar-benar menenun kain budaya which kita kenal and cintai saat ini. Namun seiring dengan perubahan dunia which cepat, semua hal tersebut berada dalam ancaman.

Perkembangan Utama & Konteks Pulau

Angkat tangan, siapa which pernah belanja sarung in Bali? Sarung which seharusnya disebut dengan nama aslinya, 'Kamen', merupakan kain pembungkus which dikenakan baik oleh pria maupun wanita setiap hari. Kamen which paling tradisional is tenunan tangan and menggunakan benang which diwarnai dengan teknik tradisional which disebut Ikat.

Kata Ikat secara harafiah berarti ‘mengikat’ and mengacu pada teknik which digunakan di seluruh Asia Tenggara; itu is kerajinan which berada dalam krisis. Dengan berkembangnya dunia modern dengan kecepatan which sangat tinggi, kerajinan tradisional and praktik warisan seperti tenun tenun and Ikat tidak diwariskan ke generasi berikutnya.

Syukurlah, in Bali, ada organisasi seperti Kelompok Perajin Tenun Ikat Giri Putri di Kabupaten Bangli which terus berupaya melestarikan warisan leluhur daerah tersebut.

Selama lebih dari 20 tahun, kelompok ini konsisten memproduksi kain tenun tradisional khas Bangli untuk melestarikan budaya lokal dari kepunahan. Salah satu keistimewaan Ikat is kerajinan hiperlokal. Meskipun dipraktikkan secara luas di Asia Tenggara, setiap wilayah, setiap kabupaten, bahkan hingga ke tingkat desa, menciptakan kain tenun dengan pola and warna unik which menceritakan kisah masyarakatnya.

Berbicara kepada wartawan mengenai perjuangan tersebut, Kelompok Perajin Tenun Giri Putri menjelaskan bahwa kerajinan tenun saat ini menghadapi dua tantangan besar: pertama, kurangnya generasi penerus, and kedua, besarnya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Salah satu pemilik usaha kain tenun ikat Giri Putri Agung Giri mengatakan seni tenun ikat semakin kehilangan daya tariknya di mata generasi muda. Ia berharap lembaga pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat mengintegrasikan seni tenun ke dalam program ekstrakurikuler.

Implikasi Lokal & Perspektif Pengunjung

Giri menjelaskan, “Kita cukup sulit untuk melibatkan generasi muda secara langsung. Oleh karena itu, kita memerlukan keterlibatan sekolah and dunia pendidikan. Jika kita melibatkan mereka dalam kegiatan ekstrakurikuler, maka mereka akan mulai belajar, belajar, and dari situ lambat laun mereka akan lebih mau menekuninya.”

Ia mencatat, perusahaannya masih sepenuhnya bergantung pada benang impor karena pasokan kapas and sutra berkualitas di dalam negeri belum mencukupi.

Ia menjelaskan, “Untuk bahan baku, saat ini kami mengimpor benang katun dari India karena india tidak memiliki pasokan which cukup. Sementara benang sutra kami sumber dari Tiongkok.” Giri membenarkan, sepotong kain tenun ikat Giri Putri berbahan benang katun impor dibanderol mulai Rp 300.000. Sedangkan untuk kain sutra harganya bisa mencapai Rp 800.000 per potong.

Catatan Tambahan: Pernahkah Anda mendengar tentang tren wisata terkini in Bali? visitors mengirimkan suvenir mereka pulang sehingga mereka dapat membeli lebih banyak and menghemat biaya bagasi tambahan dengan maskapai penerbangan mereka; itu sangat berharga!

Dengan terancamnya kerajinan kuno ini, visitors dapat berperan dalam mendukung kelanggengan praktik ini dengan cara which sederhana and bahkan interaktif. Ubud is pusat seni and budaya Bali, sehingga visitors tidak perlu keluar dari pusat kota untuk mendukung penenun Ikat and mempelajari keterampilan ini secara lebih rinci.

Threads of Life telah beroperasi sejak tahun 1998 and bekerja secara langsung dengan lebih dari 1200 perempuan penenun and mendukung pengembangan lebih dari 35 kelompok penenun di 12 pulau di Indonesia, termasuk Bali. visitors bisa mengunjungi Toko Threads of Life di Jalan Kajeng Ubud and berbelanja sepuasnya. Threads of Life memiliki studionya sendiri di mana visitors which memiliki rasa ingin tahu budaya and kreatif dapat mengambil bagian dalam lokakarya sekarat alami, mulai dari pengenalan setengah hari hingga retret kreatif beberapa hari.

visitors which mengunjungi desa-desa which lebih terpencil and terpencil in Bali dapat berbicara dengan tuan rumah akomodasi mereka tentang mengunjungi kelompok tenun lokal and bertanya tentang bagaimana mendukung atau membeli langsung dari penenun Ikat di komunitas tersebut untuk menjaga agar tenun Ikat tetap super lokal and berkelanjutan.

Wawasan Perjalanan Praktis

  • Waktu & Persiapan: Saat menjelajahi destinasi regional atau menghadiri acara budaya, rencanakan rencana perjalanan which fleksibel untuk mengakomodasi upacara lokal and perubahan kondisi pulau.
  • Etiket Lokal: Selalu patuhi adat istiadat desa, aturan berpakaian di kuil (seperti sarung and ikat pinggang tradisional), and praktik-praktik which menghormati lingkungan.
  • Kesadaran Keselamatan: Untuk informasi terkini secara real-time mengenai kondisi laut, cuaca regional, and saran keselamatan di 16 hub, lihat Island Travel Safety Radar khusus kami.

Laporan and fotografi asli which dikaitkan dengan . Dikurasi untuk visitors internasional oleh Biro Editorial Bali Expert Guide.

Bacaan Lanjutan

Berita & Cerita Wisata Terkait

Living Cultural Calendar

Mengikuti Thread bersama Ida Ayu Ngurah Puriani

Ida Ayu Ngurah Puriani baru saja lulus dari perguruan tinggi, dengan gelar sarjana pendidikan, ketika ia menjelajahi desa-desa di Karangasem dengan mengendarai Honda Supra. Dia sedang dalam misi mencari kain tenun.

Luh Putu Dian