🌴 BaliExpertGuide
CENTRAL EDITORIAL DESK DESK // Living Cultural Calendar

Mengikuti Thread bersama Ida Ayu Ngurah Puriani

Ida Ayu Ngurah Puriani baru saja lulus dari perguruan tinggi, dengan gelar sarjana pendidikan, ketika ia menjelajahi desa-desa di Karangasem dengan mengendarai Honda Supra. Dia sedang dalam misi mencari kain tenun.

L
Oleh Luh Putu Dian
Island Living & Banjar Affairs Reporter
6 menit membaca
Mengikuti Thread bersama Ida Ayu Ngurah Puriani
Editorial travel photography documenting landscapes in Amed, Bali Expert Guide.

Ida Ayu Ngurah Puriani baru saja lulus dari perguruan tinggi, dengan gelar sarjana pendidikan, ketika ia menjelajahi desa-desa di Karangasem dengan mengendarai Honda Supra. Dia sedang dalam misi mencari kain tenun.

Perkembangan Utama & Konteks Pulau

Saat itu, Ida Ayu muda belum mengetahui apa itu tekstil bebali. Tiga orang asing menanyakan hal itu kepadanya and dia tidak bisa menjawabnya. “Saya harus bertanya-tanya dari rumah ke rumah, dari penenun ke penenun, belajar dari satu naskah lontar ke naskah lontar lainnya.” Dia akhirnya mengerti bahwa ini is kain which digunakan dalam upacara siklus hidup Bali, Bebali hanyalah salah satu namanya.

Ida Ayu is sosok which berjiwa periang. Dia mengambil risiko, dia meluangkan waktu, dia belajar tanpa henti, tapi dia memastikan bahwa dia selalu bersenang-senang dalam apa which dia lakukan. “Saya mempunyai banyak waktu di dunia sebelum saya menjadi guru penuh waktu”, kenangnya pada hari-hari awal menjelajahi tekstil. Besar di Sidemen, perkenalan pertama Ida Ayu dengan tenun tenun terjadi saat masih duduk di bangku sekolah dasar, yaitu saat nyaluk-nyalukin. “Pakaian pertama saya is ikat pinggang polos which saya tenun saat berusia 9 tahun. Ibu sayalah which mengajari saya cara menenun dengan alat tenun cag-cag.”

Menenun sudah menjadi bagian dari hidupnya, namun tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi seorang penenun. Maka ia memanfaatkan kesempatan belajar di Singaraja untuk menjadi guru agama. Sekembalinya ke Sidemen, Ida Ayu mulai bekerja paruh waktu di sebuah sekolah ketika ada kesempatan untuk membantu peneliti bebali. Kesempatan itu tiba dengan tenang, seolah-olah sudah menunggunya sejak lama. Apa which awalnya sebuah rasa ingin tahu berubah menjadi sebuah panggilan. Kontribusinya berperan dalam sebuah buku penting mengenai subjek ini, ‘Tekstil Bali’, which ditulis oleh Urs Ramseryers, Brigitta Huaser-Schaublin and Marie-Lousise Nabholz-Kartaschoff.

Saat ia melanjutkan pencariannya, ia mulai memahami bahwa belajar tentang kain tenun berarti mempelajari segala sesuatu which ada di sekitarnya; ritualnya, pemahamannya, and pada akhirnya, materinya sendiri; termasuk tanaman which digunakan untuk mewarnai benang. Keingintahuannya terhadap pewarna membawanya menjauh dari alat tenun, membuatnya tertarik untuk menjelajahi hutan, tepi sungai, and garis pantai untuk mencari warna-warna alami.

Baginya, perjalanan eksplorasi ini tidak pernah terasa seperti pekerjaan. Dia selalu menggambarkannya sebagai semacam melali—pelarian kecil which bermakna. n"Murid-murid saya juga menyukainya. Mereka bertanya kepada saya tentang karyawisata, jadi saya akan memesan bemo van and pergi melali bersama mereka. Setelah kami mengumpulkan cukup tanaman, kami kembali ke sekolah and bereksperimen dengan apa which kami temukan."

Seiring bertambahnya pengetahuannya, rasa tanggung jawabnya pun meningkat. Ia mulai menyadari bahwa semakin sedikit generasi muda which tertarik pada tenun karena pekerjaan di bidang perhotelan dipandang sebagai sesuatu which lebih menjanjikan. Maka saat ia mengajar agama di sekolah, ia menemukan cara untuk menghidupkan kembali tenun dalam kehidupan generasi muda melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ia membuka pilihan untuk menjadi penenun, atau setidaknya memiliki pengetahuan tentang akar seni tradisionalnya.

Di saat which sama, Ida Ayu terus memperdalam pekerjaannya di luar sekolah. Dia mulai berkolaborasi dengan penenun lokal, memadukan pewarna alami and keahlian tenun Sidemen. Sekitar waktu itu, ia bertemu dengan pelukis asal Sukawati, Ida Bagus Made Adnyana, which menjadi suaminya. Setelah menikah, ia membuka sanggar bernama Tuhu Batu di Batuan, Sukawati, and memindahkan “dapur” pewarna alaminya jauh-jauh dari Sidemen. Tungku kayu and rak kayu dengan keranjang anyaman berisi kayu secang, akar mengkudu, and tanaman pewarna lainnya.

Implikasi Lokal & Perspektif Pengunjung

Sementara itu, kajiannya mengenai tekstil and pewarna alam terus berlanjut hingga menghasilkan buku Makna and Kegunaan Tekstil Bebali dalam Upacara Hindu Bali. Saya bertanya kepadanya bagaimana ia mampu menjalankan perannya sebagai pendidik, peneliti, penulis, and pemilik usaha. “Dengan menggali lebih dalam, kamu belajar lebih banyak, and kamu bersemangat untuk berbagi lebih banyak lagi. Melalui ini, saya menulis apa which telah diajarkan manusia and bumi kepada saya. Buku-buku which saya tulis is bagian dari ngayah”, kata Bu Dayu menjelaskan bahwa ngayah is pengabdian seseorang di luar diri sendiri, baik kepada masyarakat, leluhur, atau Tuhan.

"Karena seiring dengan perubahan Bali... ladang menjadi hotel, mendapatkan tanaman seperti nila tarum liar menjadi lebih sulit. Jadi, menulis tentang bagaimana selembar kain sebenarnya menghubungkan kita dengan tempat tinggal kita, bagaimana kita menjalani hidup sebagai orang Bali, saya menganggap ini sebagai bagian dari pengabdian saya."

Dalam banyak hal, perjalanan Ida Ayu berjalan mulus. Apa which dimulai sebagai pencarian pemahaman telah berkembang menjadi kehidupan which didedikasikan untuk belajar, berbagi, and mempertahankan. Baik saat ia mengendarai sepeda motor melewati desa-desa, mencari makan di tepi pantai, atau mengajar siswa sepulang sekolah, semangat which sama selalu ia bawa selama lebih dari 30 tahun. Perjalanannya membawanya terhubung dengan orang-orang which mempunyai kecintaan which sama dengannya, seperti inisiatif tenun lainnya, galeri seni, and seniman seperti Cok Sawitri and Tjok Istri Ratna Cora.

Melalui semua itu, dia tidak pernah kehilangan rasa melali. Bahkan di saat-saat tersibuknya, dia menemukan cara untuk berhenti sejenak and menikmati. Karena baginya, itu is cara belajar and bereksplorasi.

“Apa temuan terbaikmu sejauh ini?”, rasa penasaranku muncul.

Dia tersenyum. "Teman. Orang-orang which bisa berbagi cinta and keingintahuanku."

CATATAN KAKI:Nyaluk-nyalukin: coba-coba/trial and error?Cag-cag: alat tenun tali punggungMelali: pelarian, secara harafiah berarti “melupakan”Ngayah: pengabdian masyarakat which dipersembahkan kepada masyarakat atau pura.

Wawasan Perjalanan Praktis

  • Waktu & Persiapan: Saat menjelajahi destinasi regional atau menghadiri acara budaya, rencanakan rencana perjalanan which fleksibel untuk mengakomodasi upacara lokal and perubahan kondisi pulau.

  • Etiket Lokal: Selalu patuhi adat istiadat desa, aturan berpakaian di kuil (seperti sarung and ikat pinggang tradisional), and praktik-praktik which menghormati lingkungan.

  • Kesadaran Keselamatan: Untuk informasi terkini secara real-time mengenai kondisi laut, cuaca regional, and saran keselamatan di 16 hub, lihat Island Travel Safety Radar khusus kami.


Laporan and fotografi asli dikaitkan dengan SEKARANG! Majalah Bali. Dikurasi untuk visitors internasional oleh Biro Editorial Bali Expert Guide.

Bacaan Lanjutan

Berita & Cerita Wisata Terkait

Community & Editorial Accuracy

Suggest an Update