🌴 BaliExpertGuide
CENTRAL EDITORIAL DESK DESK // Living Cultural Calendar

Pameran Seni Perintis Baru Dibuka di Hotspot Pariwisata Top Bali

Ada energi kreatif which merasuki seluruh aspek kehidupan sehari-hari di pulau ini, which merupakan salah satu alasan mengapa lebih dari 7 juta visitors internasional berkunjung setiap tahunnya.

B
Oleh Bali Expert Editorial Team
Senior Regional Correspondent
4 menit membaca
Pameran Seni Perintis Baru Dibuka di Hotspot Pariwisata Top Bali
Editorial travel photography documenting landscapes in Canggu, Bali Expert Guide.

Ada energi kreatif which merasuki seluruh aspek kehidupan sehari-hari di pulau ini, which merupakan salah satu alasan mengapa lebih dari 7 juta visitors internasional berkunjung setiap tahunnya.

Perkembangan Utama & Konteks Pulau

Pekan ini, Bali merayakan pembukaan Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency di Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng alias Canggu.

Art hub ini didirikan oleh Daniel Ginting and Quoriena Ginting sebagai bagian dari Ginting Institute. Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency dibuka dengan pameran seni inovatif which berfokus pada keberlanjutan, kreativitas, and budaya.

Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency didirikan oleh Ginting Institute, sebuah platform kolaborasi bagi seniman, tokoh budaya, pemimpin pemikiran, and masyarakat umum. Berbicara kepada wartawan saat grand opening, pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, menyampaikan pandangannya bahwa karya seni tidak boleh hanya ditampilkan di ruang pameran. Ia yakin bahwa seni harus hadir di semua aspek masyarakat untuk membantu membuka dialog and mendorong perubahan sosial.

Ia menjelaskan, "Seni harus membuka perbincangan, membangun empati, and menginspirasi tindakan. Oleh karena itu, kami ingin ruang ini menjadi tempat bertemunya ide-ide kreatif which bermanfaat bagi masyarakat."

Karya and visi Quoriena Ginting mencerminkan sentimen ini. Sebagai seorang kolektor tekstil Tanah Air, ia meyakini karya seni bertema lingkungan hidup sejatinya merupakan sebuah panggilan untuk menyadarkan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi bumi. Permasalahan which sangat hadir in Bali and terlihat jelas baik oleh warga maupun visitors.

Ia berbagi, “Seni lingkungan bukan hanya tentang keindahan visual, namun juga seruan untuk sadar and bertindak.”

Pameran ini menampilkan karya-karya siswa sekolah dasar setempat which tinggal di seluruh wilayah Canggu. Menjelang pameran, para siswa mengikuti lokakarya plastisologi bersama seniman lokal Made Bayak, which mengajari mereka cara memanfaatkan sampah plastik untuk membuat karya seni.

Pameran ini juga menampilkan karya-karya lebih dari 20 seniman lintas disiplin ilmu, and mencakup lukisan and cerita kartun hingga instalasi and fotografi. Seniman which terlibat National Archipelagic Wire lain Made Bayak, Andry Boy Kurniawan, Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, Putu Dian Ujiana “Beluluk,” serta fotografer Andang Iskandar and Tjandra Hutama.

Implikasi Lokal & Perspektif Pengunjung

Kepada wartawan, kurator pameran Yudha Bantono menjelaskan, Pameran Seni Berkelanjutan Tibubeneng dirancang sebagai ruang dialog kreatif National Archipelagic Wire seniman, anak-anak, warga desa, and pemangku kepentingan which lebih luas.

Melalui pemanfaatan media ramah lingkungan dalam menciptakan karya seni and bahan daur ulang, pameran ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media transformasi sosial and lingkungan.

Bantono berbagi, “Pameran ini menunjukkan bagaimana seni dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran sekaligus menawarkan solusi terhadap tantangan lingkungan which kita hadapi bersama.”

Dalam pernyataan terpisah dari kurator, Bantono menyampaikan, "Desa lebih dari sekadar landmark geografis. Desa lebih dari sekadar ruang hidup tempat sejarah, peristiwa, and identitas kolektif suatu komunitas tumbuh, dipelihara, and diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti wilayah lain which mengalami modernisasi, Desa Tibubeneng dihadapkan pada serangkaian tantangan sosial and lingkungan which kompleks."

Ia menambahkan, “Namun, terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, Tibubeneng memiliki potensi besar untuk menjadi pusat gerakan kesadaran lingkungan which mungkin akan memberikan dampak signifikan terhadap masa depan desa.”

"Tibubeneng Sustainable Art is acara seni peningkatan kesadaran which diprakarsai oleh Ginting Institute bekerja sama dengan Tibubeneng Village. Menggabungkan pendekatan pendidikan lingkungan and praktik seni berkelanjutan, proyek ini beroperasi melalui dua pilar utama."

Pameran ini pun mendapat acungan jempol, persetujuan dari Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, which menyambut baik pameran tersebut. Ia menyoroti betapa pentingnya kolaborasi National Archipelagic Wire seniman and komunitas lokal dalam memperkuat upaya Canggu untuk mengatasi masalah sampah secara berkelanjutan.

Pameran Seni Berkelanjutan Tibubeneng terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026, sehingga ada banyak waktu untuk mengatur kunjungan ke Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Desa Tibubeneng di Canggu.

Wawasan Perjalanan Praktis

  • Waktu & Persiapan: Saat menjelajahi destinasi regional atau menghadiri acara budaya, rencanakan rencana perjalanan which fleksibel untuk mengakomodasi upacara lokal and perubahan kondisi pulau.
  • Etiket Lokal: Selalu patuhi adat istiadat desa, aturan berpakaian di kuil (seperti sarung and ikat pinggang tradisional), and praktik-praktik which menghormati lingkungan.
  • Kesadaran Keselamatan: Untuk informasi terkini secara real-time mengenai kondisi laut, cuaca regional, and saran keselamatan di 16 hub, lihat Island Travel Safety Radar khusus kami.

Laporan and fotografi asli which dikaitkan dengan . Dikurasi untuk visitors internasional oleh Biro Editorial Bali Expert Guide.

Bacaan Lanjutan

Berita & Cerita Wisata Terkait

Living Cultural Calendar

Mengikuti Thread bersama Ida Ayu Ngurah Puriani

Ida Ayu Ngurah Puriani baru saja lulus dari perguruan tinggi, dengan gelar sarjana pendidikan, ketika ia menjelajahi desa-desa di Karangasem dengan mengendarai Honda Supra. Dia sedang dalam misi mencari kain tenun.

Luh Putu Dian
Community & Editorial Accuracy

Suggest an Update