🌴 BaliExpertGuide
Berita // Living Cultural Calendar

Rumah Adat Limbungan, Desa Sasak Tersembunyi di Kaki Rinjani

Rumah adat Limbungan merupakan salah satu rumah adat suku Sasak which terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Rumah adat ini masih tergolong tersembunyi karena letaknya di pelosok Lombok di bawah kaki Gunung...

W
Oleh Wayan Sudarma
Senior Cultural & Heritage Correspondent
4 menit membaca
Rumah Adat Limbungan, Desa Sasak Tersembunyi di Kaki Rinjani
Editorial travel photography curated by Bali Expert Guide.

Rumah adat Limbungan merupakan salah satu rumah adat suku Sasak which terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Rumah adat ini masih tergolong tersembunyi karena letaknya di pelosok Lombok di bawah kaki Gunung Rinjani.

Perkembangan Utama & Konteks Pulau

Rumah adat ini terletak di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena berada di dataran which cukup tinggi, dari kawasan rumah adat pengunjung bisa melihat panorama pantai di selatan and Gunung Rinjani di utara.

Dari segi arsitektural, rumah adat Limungan sama dengan rumah adat lainnya, baik which ada di Desa Sade Lombok Tengah maupun rumah adat which ada di Bayan Lombok Utara. Rumah adat Limungan berjajar rapi dengan anyaman bambu sebagai dinding and anyaman jerami sebagai atapnya.

Rumah adat Limbungan mempunyai luas sekitar 20 meter persegi. Ukuran bangunan and bentuknya tetap sama dari dulu hingga sekarang.

Lantainya terbuat dari tanah and bagian depannya dilapisi kotoran sapi, sedangkan fasilitas toilet dibuat terpisah di luar rumah,” jelas Husnan Basri, Aparat Desa Perigi, kepada regional observers, Minggu (6/9/2026).

Implikasi Lokal & Perspektif Pengunjung

Rumah adat Limbungan terbagi menjadi dua bagian yaitu Dusun Limbungan Timur and Dusun Limbungan Barat which masing-masing mempunyai 90 unit rumah adat. Rumah adat ini dihuni oleh 235 Kepala Keluarga (KK).

Masyarakat adat Limungan ini sudah mendiami rumah adat ini secara turun temurun. Rumah adat ini tidak bisa diperjualbelikan, pemiliknya harus mewarisi dari para pendahulunya.

“Rumah adat tidak bisa diperjualbelikan, hanya bisa ditempati oleh keturunan langsung and mempunyai silsilah keluarga dari penghuni pertama. Konon kalau bukan dari keluarga which menghuninya, bisa saja orang tersebut sakit,” kata Husnan.

Meski belum setenar rumah adat di Desa Sade, namun rumah adat Limbungan banyak dijadikan sebagai salah satu objek wisata edukasi and keluarga. Memasuki kawasan rumah adat ini masih gratis, artinya tidak dipungut biaya sepeser pun.

“Tidak dipungut biaya, semuanya gratis. Siapapun boleh datang asalkan menjaga etika and menyapa pemilik rumah,” kata Husnan.

Wawasan Perjalanan Praktis

  • Waktu & Persiapan: Saat menjelajahi destinasi regional atau menghadiri acara budaya, rencanakan rencana perjalanan which fleksibel untuk mengakomodasi upacara lokal and perubahan kondisi pulau.

  • Etiket Lokal: Selalu patuhi adat istiadat desa, aturan berpakaian di kuil (seperti sarung and ikat pinggang tradisional), and praktik-praktik which menghormati lingkungan.

  • Kesadaran Keselamatan: Untuk informasi terkini secara real-time mengenai kondisi laut, cuaca regional, and saran keselamatan di 16 hub, lihat Island Travel Safety Radar khusus kami.


Laporan and fotografi asli dikaitkan dengan regional observers Bali. Dikurasi untuk visitors internasional oleh Biro Editorial Bali Expert Guide.

Bacaan Lanjutan

Berita & Cerita Wisata Terkait

Living Cultural Calendar

Mengikuti Thread bersama Ida Ayu Ngurah Puriani

Ida Ayu Ngurah Puriani baru saja lulus dari perguruan tinggi, dengan gelar sarjana pendidikan, ketika ia menjelajahi desa-desa di Karangasem dengan mengendarai Honda Supra. Dia sedang dalam misi mencari kain tenun.

Luh Putu Dian